Rabu, 11 Juli 2012
Sabtu, 04 Februari 2012 , 16:08:00
Petugas Damkar yang Mantan Pemain PSB (2-Habis)
Tinggalkan Timnas demi Jadi PNS di Bogor
Berbakat dan bergelimangan harta ternyata tak membuat Dian Irzandi menikmati dunia kulit bundar. Jebolan PSSI Primavera angkatan Kurniawan Dwi Yulianto dan Bima Sakti yang mengawali karier sepakbolanya di PSB Suratin ini, ternyata memilih berkarier sebagai petugas pemadam kebakaran (damkar), karena merasa terpanggil hatinya menolong orang.
LAPORAN: MUHAMMAD RURI ARIATULLAH
Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu sedang asyik bersantai bersama rekannya di mes UPTD Damkar Sukasari saat menyambangi tempat kerjanya, kemarin. Ia begitu ramah menyambut kedatangan Radar Bogor yang ingin menanyakan suka duka sebagai petugas damkar.
Bagi Dian, menjadi bagian dari regu penyelamatan menjadi keinginannya sejak dulu. Karena ada semacam gairah yang timbul bila dibandingkan bekerja di bidang lain. Salah satunya merasakan tantangan bagaimana menaklukkan api.
“Sudah mengalir begitu saja dalam diri, dan ini menjawab rasa penasaran saya yang ingin berkarier di luar dunia sepakbola,” ujarnya membuka pembicaraan.
Pria yang telah melanglang buana ke berbagai klub tanah air itu, sebenarnya bukan pemain sembarangan. Seusai menjuarai turnamen Piala Suratin 1992, ia berkesempatan memperkuat Indonesia Primavera di Italia di bawah tangan dingin mantan pelatih Danurwindo pada 1993-1995.
Namun, ia merasa tidak betah karena ingin memiliki pekerjaan tetap saat pensiun nanti.
“Pesepakbola jika sudah tidak aktif lagi tentu tak memiliki pekerjaan tetap karena hanya fokus ke latihan dan kompetisi saja. Saya tidak mau seperti itu karena lebih memikirkan masa depan keluarga,” jelasnya.
Menurut Dian, ada kesamaan antara pesepakbola dengan petugas damkar. Di antaranya harus memiliki ketahanan fisik yang prima. Selain itu, ada tantangan juga terutama dalam menghadapi kekecewaan masyarakat saat telat tiba di lokasi kebakaran.
“Di sini (damkar) juga ada keahlian seperti arung jeram, melompat dari gedung satu ke gedung lain dan terjun ke medan yang sulit dilalui orang lain,” ujar pria yang pernah melawan Alessandro Del Piero, Vicenzo Montela serta Pierluigi Casiraghi saat di Primavera Italia.
Pria asal Surabaya itu mengaku, telah memiliki pekerjaan tetap saat bermain bagi klub Semen Padang. Namun, dengan sukarela ia melepasnya karena ingin kembali ke Bogor.
“Pada 2005 saya balik lagi ke PSB dengan harapan bisa berkarier sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Bogor. Alhamdulillah, keinginan saya direspons pengurus dengan memasukkan saya ke Dinas Bina Marga pada 2005,” terangnya.
Ada satu kesan menarik yang dialami Dian saat mencari warga negara Korea yang hanyut di Cisarua satu tahun lalu. Selama sebulan ia menyusuri sepanjang aliran Sungai Cisadane hingga Tangerang dengan berjalan kaki. Dan, selalu mengikuti proses penyelamatan tanpa pernah absen.
Ia beralasan, medannya yang terjal karena menyerupai jalanan bukit, membuatnya merasa kembali seperti bermain bola dulu.
“Sama persis dengan latihan fisik yang saya alami waktu masih aktif dulu. Dan, ini bukan menjadi rintangan justru menikmatinya karena bisa bekerja sambil berolahraga. Makanya, postur tubuh saya tetap seperti ini di usia ke-37,” ungkapnya seraya tertawa.
Namun, Dian juga memiliki cerita sedih saat kehilangan rekan seprofesinya karena truk yang ditumpanginya jatuh ke dalam jurang di Sempur tahun lalu.
Apalagi, pada pagi harinya ia bersama Ali sempat bertugas memadamkan api saat terjadi kebakaran di jalan tol Jagorawi. “Saya pernah memintanya untuk pulang dan istirahat, tapi ia menolak dan tetap menjalankan tugas hingga maut menjemputnya,” pungkasnya.(*)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar